Arsip untuk Maret, 2009

01
Mar
09

uji coba

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; text-align:center; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Tulisan ini menceritakan tentang awal kegiatan studi banding seluruh Kepala Desa (kepala Kampong) se Kecamatan Sahu di Jawa Barat. Studi banding, adalah istilah yang sering digunakan para pengambil kebijakan dalam rangka melakukan pengamatan terhadap suatu objek diwilayah lain, dan berupaya mengamati dan mempelajari sedemikian rupa sehingga memiliki konsep untuk merekayasa suatu program pembangunan yang berkaitan dengan kebutuhan dan potensi di wilayahnya sendiri. Bagi masyarakat awam, memiliki konstruksi pemahaman tersendiri tentang apa itu Studi banding.?. Secara sederhana mereka memahami studi banding sebagai suatu kegiatan “membanding-banding”kan apa yang dimiliki oleh “diri” (daerah) kita, dan apa yang dimiliki oleh “orang lain”(daerah lain) pada objek yang sama, namun lebih maju dan berkembang dari apa yang dimiliki oleh “diri” (daerah) kita.

Yang jelas, Konsep studi banding sendiri memiliki nuansa akademik dan keilmiahan, karena berkaitan dengan suatu objek lapangan atau fenomena yang hendak di amati dan di pelajari, karena bagaimanapun juga terdapat suatu aktivitas studi di sana. Oleh karenanya, bagi siapa saja yang melakukan studi banding, layak memiliki konsep dan metodologi yang jelas, sehingga hasil studi benar-benar dapat di pertangunggjawabkan secara sosial maupun keilmuan. Secara sosial, di harapkan hasil studi banding dapat bermanfaat dan “berbuah nyata” bagi masyarakat dan daerah, dan secara keilmuan dapat diukur kemanfaatan dan kegunaan dari sisi keilmiahan berdasarkan hasil studi banding di maksud. Oleh karenanya, jika kegiatan studi banding tidak memiliki konsep yang jelas, maka bukan kemanfaatan dan kegunaan yang di dapat, melainkan kemudharatan dari hasil studi banding yang akan di terima oleh masyarakat dan daerah itu sendiri. Lanjutkan membaca ‘uji coba’